Select Page


[Download PDF KONTAN DAILY Bisnis Luar Angkasa 2.0]

oleh Jennie M. Xue

Anda mungkin pernah dengar nama SpaceX yang didirikan oleh Elon Musk dan Blue Origin yang diprakarsai oleh orang terkaya dunia Jeff Bezos yang juga adalah pendiri Amazon. Bisa saja Anda hanya kenal dua startup ini, padahal startup-startup yang membisniskan luar angkasa sudah semakin terkategorisasi dan jumlahnya sudah semakin banyak.

Kok 2.0? Ya, ini adalah era versi kedua pengembangan teknologi luar angkasa yang melibatkan pihak-pihak privat di mana NASA meng-outsource berbagai teknologi dan aktivitas mereka. Era ini jelas merupakan kesempatan emas bagi firma-firma yang dijalankan oleh para saintis roket ultra jenius.

Apa saja kategorisasinya dan siapa saja para pemainnya? Sudah sampai tahap apa peradaban teknologi manusia untuk menjadi makhluk antar planet dan antar galaksi? Mampukah startup-startup luar angkasa ini bertahan dan menjadi profitable?

Mari kita bahas.

Satu, secara garis besar, startup yang membisniskan luar angkasa terbagi atas enam kategori: kendaraan transportasi kargo, kendaraan transportasi awak, manufaktur propulsi, launching satelit, ekonomi berbasis luar angkasa, dan manufaktur komponen kendaraan luar angkasa. Sekitar 303 perusahaan privat bergerak dalam industri ini.

Sir Richard Branson pendiri Virgin Group telah mempelopori bisnis turisme luar angkasa dengan Virgin Galactic-nya yang masih dalam tahap pembangunan. Space Adventures yang didirikan oleh Eric C. Anderson pada tahun 1998, malah telah berhasil menerbangkan tujuh wisatawan angkasa di tahun 2009. Salah satunya telah dua kali ke luar angkasa.

Space Adventures telah berhasil membangun International Space Station (ISS) dan berhasil menerbangkan tujuh pebisnis dengan bayaran antara USD 20 juta hingga USD 52 juta. Tim advisor mereka termasuk para astronot Apollo 11, seperti Buzz Aldrin.

Dua, bisnis “luar angkasa” bisa berbentuk apa saja yang memasok kebutuhan kendaraan luar angkasa dan para awaknya. Bahkan Under Armour yang dikenal dengan pakaian olah raganya kini merambah ke memproduksi seragam awak kapal Virgin Galactic.

Sebagai contoh, pasutri Roderick dan Randa Milliron mendirikan Interorbital Systems (IS) di tahun 1996 yang mendesain roket dan satelit. Lokasi kantor mereka di Mojave Air and Spaceport di Mojave, California, bertetangga dengan Edwards Air Force Base dan Virgin Galactic.

IS kini merupakan bagian dari Synergy Moon yang pernah berkompetisi untuk memenangkan penghargaan Google Lunar XPRIZE. IS dan startup-startup kecil dan menengah serupa lainnya sangat membantu transisi NASA dengan cost efficiency yang cukup besar.

Tiga, profit memang menjanjikan namun di tahap awal peradaban interplanetary manusia ini, belum seberapa keuntungan finansial yang didapat. Terutama mengingat tingginya biaya pengeluaran R&D.

Menurut data dari Bryce Space and Technology, SpaceX telah mengeluarkan investasi USD 7,6 miliar terhitung 2012 hingga 2016. Investment firm Space Angels, misalnya, menanamkan USD 3,9 miliar di tahun 2017 yang tersebar di 51 proyek-proyek pemerintah dan 37 proyek-proyek privat.

Empat, pemain di luar AS, Rusia, dan Inggris juga mulai bermunculan seperti Rocket Lab berbasis di Selandia Baru. Mereka sedang mengembangkan satelit elektron komersial.

Gol Rocket Lab adalah berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa yang sangat efisien dan cost-effective. Selling price yang dibidik sekitar USD 5 juta. Bandingkan dengan SpaceX yang berbandrol USD 62 juta per flight.

Rocket Lab sendiri telah menerima USD 1,3 juta hibah dari pemerintah Selandia Baru untuk R&D dan pendidikan para pakar.
Venture capitalists Khosla Ventures dan Bessemer Venture Partners juga telah mengucurkan USD 75 juta.

Lima, menurut pakar String Theory Michio Kaku yang merupakan penerus Albert Einstein, bisnis luar angkasa merupakan konsekuensi organik dari peradaban manusia yang telah menuju antar planet. Manusia segera akan menjadi makhluk dwiplanet yaitu Bumi dan Mars.

Profesor Kaku sendiri optimis akan kemampuan manusia dalam berinovasi teknologi sehingga peradaban manusia mempunyai kesempatan untuk berkembang menjadi peradaban antar solar system dan antar galaksi pada suatu hari. Dan ini diawali dengan Bisnis Luar Angkasa 2.0 yang memberi kesempatan bagi startup-startup privat untuk berkreasi.

Di Asia, China dan Jepang telah mempeloporinya. Bagaimana dengan Indonesia?[]

KONTAN DAILY, Jumat, 15 November 2019

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest