[Download PDF KONTAN DAILY Setiap Pemimpin Harus Mengajar]
oleh Jennie M. Xue
Great leaders need to be great teachers. Sebagai pemimpin, Anda perlu menjadi guru yang baik. Konsep pemimpin bukan lagi atau “hanya” seseorang yang “menaungi” tim, bukan juga sekedar seorang pengelola.
Seorang pemimpin adalah juga seorang mentor, coach, dan guru. Tiga peran ini mirip dan sering kali tidak dipahami secara tepat.
Pertama-tama, bedakan dulu mentor dan coach. Skill yang dibutuhkan untuk menjadi seorang mentor dan coach sebenarnya mirip, namun yang pertama lebih memfokuskan kepada technical skill jangka panjang dan yang kedua kepada soft skill jangka pendek.
Seorang marketer, misalnya, memerlukan mentor yang mengarahkannya agar dapat lebih mendalami ketrampilan-ketrampilan teknis yang dibutuhkan dalam digital marketing. Sedangkan seorang coach membantu mengarahkannya dalam mencapai gol-gol jangka pendek karir pemasaran.
Dengan kata lain, mentor menjawab “what” dan coach menjawab “how” dalam perjalanan karir seseorang. Lantas, sebagai pemimpin perlu bertindak sebagai mentor, coach, dan guru sekaligus? Tidakkah ini memberatkan?
Pertama, a leader wears many hats. Seorang pemimpin mengenakan beberapa topi, tidak hanya satu. Tiga fungsi ini saling terikat satu sama lain.
Ini bukan berarti setiap peran perlu dijalankan terpisah. Bisa saja mentoring, coaching, dan teaching berjalan serentak.
Kedua, sebagai “guru,” ini bukan berarti “menggurui” secara sepihak. Seorang pemimpin sejatinya belajar terus-menerus untuk mempersiapkan diri mengajar para subordinat.
Dengan mengajar, ia belajar dari mereka yang diajar dan dari diri sendiri. Ada proses dan pergumulan di dalam diri di mana pembelajaran menjadi bahan pengajaran dan ketika mengajar terjadi proses pembelajaran juga.
Ya, seorang pemimpin bukanlah seorang pemimpin sebenarnya apabila ia hanya jago memerintah dan menyuruh saja. Ia harus mampu menunjukkan standar yang diharapkan dengan mempraketakkannya tanpa perlu berteori panjang lebar.
Minimal, seorang pemmipin perlu mengenal setiap posisi pekerjaan para subordinat, job description, dan bagaimana memperbaiki output secara kualitas dan kuantitas. Dan ini membutuhkan kemampuan belajar yang besar. Ini merupakan “bahan pembelajaran” sang guru.
Seorang guru yang baik adalah murid yang baik. Ia adalah pembelajar sepanjang hayat.
Dengan strategic and learning skills yang dimiliki pemimpin, ia mampu memahami dan mengerjakan apa yang dikerjakan para subordinat. Tugas selanjutnya adalah bagaimana ia memberi masukan akan perbaikan sebagai guru pembelajar.
Sebagai “guru,” pemimpin akan dapat mengenali siapa saja di antara para “murid” yang mempunyai kemampuan besar sebagai suksesor. Tanpa menjadi “guru,” pemimpin hanya dapat menilai seseorang dari performance review dan aktivitas-aktivitas rutin dan proyek.
Proses belajar seseorang membuka tabir “siapa dia,” maka para CEO menggunakan kegiatan mengajar ini sebagai sarana untuk mengenali para prodigi pemimpin masa depan. Inilah sesungguhnya salah satu pentingnya mengajar sebagai pemimpin.
Pemimpin perlu mengenali para calon pemimpin di masa depan yang dapat memimpin perusahaan sesuai perkembangan zaman di masa itu. Sayangnya, kebanyakan hanya mencari “pengganti mereka” yang serupa dengan diri mereka.
Mindset seperti ini perlu diubah, karena kondisi masa depan sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Pemimpin perlu mampu mengenali kebutuhan-kebutuhan di masa depan dan siapa saja yang memiliki kemampuan sesuai.
Contohnya, Revolusi Industri ke-4 yang kini tengah kita jalani merupakan masa transisi di mana AI (artificial intelligence) dan robotik akan menjadi arus tengah. Berjuta-juta posisi akan tergantikan, sehingga kesiapan teknologi dan personel sangat berbeda.
Dalam proses mengajar, pemimpin perlu menanamkan kepada subordinat untuk menyadari seperti apa dunia di masa depan, skill dan tool yang amat dibutuhkan. Salah satu metode terjitu yang dapat dipakai adalah active learning, di mana fondasi teoritis dibarengi dengan hands-on experiences.
Active learning bukan hanya mendengarkan presentasi dan seminar secara pasif di tempat duduk, namun menjalankan aktivitas-aktivitas sebenarnya yang dijalankan dengan dukungan informasi terkini.
Pemimpin sebagai seorang “guru” memberikan contoh bahwa hasil (result) jauh lebih berarti daripada kemampuan intelektual teoritis dan menginspirasi belaka. Akhir kata, setiap orang adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dengan belajar, Anda menjadi pengajar dan pemimpin yang lebih baik. Selamat mempersiapkan tim untuk masa depan.[]
KONTAN DAILY, Jumat, 20 April 2018