Select Page

hotel450

FMPM logo

[Download PDF FMPM Proposisi Flawlessness Kunci Pembuka Tren MICE]

oleh Jennie M. Xue

Indonesia kedatangan 9 juta turis asing pada 2013 lalu. Bandingkan dengan angka pelancong di negeri Paman Sam, yakni sekitar 67 juta di tahun yang sama.

Di era modern, kita melakukan perjalanan “bisnis” maupun “liburan.” “Business or pleasure” ini menjadi dasar klasifikasi visa kunjungan. Dalam perjalanan bisnis, biasanya skedul, sarana transportasi, dan penginapan telah diurus oleh staf divisi administrasi atau logistik. Ini merupakan pasar tersendiri dalam industri pariwisata, yang disebut sebagai “business travel industry.”

Sepanjang sejarah, peradaban manusia ditandai dengan perjalanan dan penjelajahan. Christopher Columbus, Magellan, Vasco Da Gama, dan Marco Polo dikenal sebagai penjelajah dunia yang turut menentukan arah peradaban modern. Dengan perahu layar, mereka mengunjungi benua-benua dan tempat-tempat yang sebelumnya masih jarang dikunjungi oleh orang luar.

Di era modern, kita melakukan perjalanan “bisnis” maupun “liburan.” “Business or pleasure” ini menjadi dasar klasifikasi visa kunjungan. Dalam perjalanan bisnis, biasanya jadwal, sarana transportasi, dan penginapan telah diurus oleh staf divisi administrasi atau logistik. Ini merupakan pasar tersendiri dalam industri pariwisata, yang disebut sebagai “business travel industry.”

Dalam perjalanan-perjalanan bisnis, menghadiri berbagai acara ternyata turut membuka pasar yang unik dan membutuhkan keterampilan berstandar internasional. Fenomena ini ditangani dengan serius oleh badan PBB yaitu UNWTO (United Nations World Tourism Organization), yang menjadi payung dan referensi berbagai kebijakan dan know-how terbaru.

Tim manajemen suatu perusahaan atau bisnis yang berhubungan dengan bisnis pariwisata yang berbasis acara (event-based tourism) perlu mengenali pasar dunia yang semakin ketat, sehingga strategi pemasaran bisa dirancang dan dieksekusi dengan sebaik mungkin, alias “flawless execution” (tanpa cela).

Flawless. Salah satu kata kunci dalam bisnis hospitality papan atas. Flawless planning. Flawless strategy. Flawless execution.

Posisi Strategis

Event-based tourism (EBT), merupakan salah satu bentuk “paket” pariwisata yang ditawarkan kepada para pelancong. Biasanya mencakup bisnis, liburan, atau gabungan keduanya. Untuk yang bersifat “pleasure,” EBT mencakup eksposisi yang bersifat hobi; seperti pameran koleksi, karya seni, peralatan olah raga, kecantikan dan relaksasi, terkait unsur kesehatan, hiburan, dan sebagainya.

Acara-acara (events) lainnya cukup banyak yang berhubungan dengan hiburan dan edukasi, termasuk berbagai konferensi (conference), pameran (trade show), dan presentasi yang relevan, menghibur, dan memperkaya hati dan pikiran. Intinya, EBT untuk para pelancong yang sedang “berlibur” termasuk kategori B2C (business- to-customer) yang diadakan oleh korporasi atau bisnis dengan target market konsumen individu dan keluarga.

Sebaliknya, EBT bagi para pebisnis mempunyai “nilai finansial” dan B2B (business-to-business).

Keunikan MICE yang ditonjolkan dalam pameran-pameran IMEX adalah tingkat profesionalisme yang sangat tinggi alias “flawless” dari setiap peserta. 

Di tahun 2013, total turis di seluruh dunia mencapai 1 milyar dan 87 juta orang dengan pertumbuhan per tahun 5 sampai 6 persen.

Umumnya berbentuk meetings, incentives, conferences, dan exhibitions/events (MICE). Selain itu, para akademisi dan profesional menggunakan istilah “meetings industry” dan “events industry.”

Mengagumkan bahwa MICE adalah sub-industry tersendiri dengan growth luar biasa. Buktinya, MICE kini merupakan salah satu segmen yang sangat diamati dan diminati. Bahkan salah satu agensi PBB bernama UNWTO (United Nations World Tourism Organization) yang didirikan di tahun 2003, spesifik membawahi industri pariwisata dunia, termasuk industri turisme EBT dan MICE.

Sekretaris Jendral UNWTO bernama Taleb Rifai berpendapat bahwa bisnis EBT dan MICE sangat penting dalam membentuk perekonomian pariwisata -yang tidak lagi menggantungkan diri pada musim liburan.

Ini berarti penghasilan industri pariwisata bisa lebih stabil dan bertumbuh positif. Di tahun 2013 saja, total turis di seluruh dunia mencapai 1 milyar dan 87 juta orang dengan pertumbuhan per tahun 5 sampai 6 persen.

UNWTO memimpin industri pariwisata dengan berbagai program dan peran sentral dalam mempromosikan industri ini yang beretika, berkesinambungan, dan mudah di akses. Industri MICE merupakan industri yang sesuai di abad 21 ini, mengingat merupakan industri yang relatif “bersih” alias tidak menghasilkan sampah berbahaya maupun kerusakan lingkungan yang (cenderung) berarti.

Bahkan fungsi utamanya adalah menciptakan lingkungan bekerja yang nyaman bagi klien dengan mengonsolidasikan berbagai produk dan jasa yang berstandar tinggi. Sifat “konsolidator” ini merupakan alternatif yang baik daripada bisnis-bisnis “manufaktur” yang menimbulkan berbagai hutang sosial (social debt) di masa depan.

Kehadiran badan turisme internasional di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menunjukkan betapa strategis dan krusial industri ini. Sama pentingnya dengan UNICEF dan UNESCO yang menangani isu anak-anak dan kolaborasi antar bangsa.

Industri turisme MICE memiliki pameran (trade show) yang dikenal sebagai IMEX Meeting Industry Trade Show (IMEX). IMEX America di Las Vegas merupakan ajang pameran internasional terbesar untuk industri ini. Untuk tahun 2015, akan diadakan di The Sands Expo, Las Vegas, pada 13-15 Oktober. Sedangkan IMEX Frankfurt telah berlangsung sekitar pertengahan Mei kemarin.

Keunikan MICE yang ditonjolkan dalam pameran-pameran IMEX adalah tingkat profesionalisme yang sangat tinggi alias “flawless” dari setiap peserta. Ini bisa dimengerti mengingat banquet services yang digunakan berstandar internasional bintang lima. Salah satu badan akreditasi para profesional industri hospitality dan MICE adalah Institute of Hospitality, yang berbasis di London.

Spesialisasi dan Diversifikasi

Secara garis besar, strategi pemasaran event-based MICE dilakukan dalam empat tingkatan: internasional, regional, industri, dan korporasi.

Spesialisasi dalam industri MICE cukup beragam, tergantung dari pengalaman dan kebutuhan klien. Di Silicon Valley, yaitu di sekitar San Francisco Bay Area di California Utara, industri MICE berfokus kepada ceruk (niche market) yang berhubungan dengan teknologi, seperti komputer, software/program/ aplikasi Windows dan Mac, computer games dan aplikasi, telepon selular, mobil hibrid, telekomunikasi, dan transportasi berteknologi tinggi.

Di Las Vegas yang lebih “internasional” dan universal dalam tema, berbagai aktivitas industri MICE dari fast-moving consumer commodities (FMCC), B2B (business- to-business) hingga berbagai intellectual properties seperti film, video, audio, dan arts-related lainnya, bisa dijumpai.

Kota-kota tujuan favorit di AS lainnya termasuk: Los Angeles, San Diego, New York City, Boston, Dallas, Houston, Portland, Detroit, dan Seattle. Sebelum kebangkrutannya di tahun 2013, Detroit merupakan kota manufaktur otomotif yang dikagumi dunia, sehingga berbagai MICE yang berhubungan dengan mobil dan kendaraan bermotor berpusat di sana. Kini, Detroit telah bermetamorfosis menjadi kota urban yang hip dan sarat teknologi berbasis internet.

Sebagai studi kasus, MCI merupakan salah satu event management company yang berpusat di Swiss, telah mendapatkan akreditasi dari Association Management Companies (AMC) dan berhasil mempertahankannya sebagai satu-satunya perusahaan event management yang tidak berlokasi di Amerika Serikat. MCI mempunyai cabang di berbagai negara dan merupakan salah satu pemain tangguh di AS. Klien-kliennya papan atas seperti Microsoft, Qualcomm, dan sebagainya.

UNWTO Selain wadah menyampaikan know-how terbaru, badan PBB satu ini merupakan forum global bagi rancangan kebijakan yang berhubungan dengan industri pariwisata. Anggotanya terdiri dari 156 negara, 6 teritori internasional, 2 pengamat permanen, dan 400 anggota afiliasi.

MCI menyebut dirinya sebagai “destination manager” selain “event manager” dan “professional conference service provider”. Ini merupakan positioning dan branding yang tepat, mengingat pasar dan ceruk yang dibidiknya cukup beragam dengan berbagai brand asset sesuai target market sebagai diversifikasi.

Untuk menjadi pemain besar, suatu organisasi perlu mengenali bagaimana business is developed dalam event- based marketing, yaitu dengan bidding system (lelang atau tender). Umum dikenal di seluruh dunia, yaitu dengan kebiasaan para provider yang mengajukan proposal (RFP), dalam perincian lengkap untuk dipertimbangkan penyelenggara event.

Karenanya, berbagai bentuk pemasaran kreatif perlu dijalankan jauh sebelum proposal dikirim. Peran public relations sangat penting, yang bisa diperhatikan dengan besarnya budget bisnis-bisnis hospitality dalam membangun “citra nyaman.”

The Four Seasons dan The Ritz-Carlton misalnya, dikenal dengan servis tamu yang super premium. Berawal dari bentuk pemasaran kreatif, kini berevolusi menjadi standar. Apa pun yang intinya memberi rasa nyaman kepada tamu akan dipertahankan. Dan berbagai informasi akan hal-hal positif disebarluaskan oleh divisi public relations yang bekerja secara efektif.

Misalnya di The Four Seasons, apabila seorang tamu yang tengah menginap memindahkan letak meja di dalam kamar, maka housekeeping akan mempertahankan posisi tersebut tanpa mengubahnya ketika membersihkan kamar di pagi hari. Di The Ritz, seorang bell captain sejak awal menjemput tamu di depan hotel akan mengirimkan sinyal mengenai “nama tamu” sehingga begitu tiba di hadapan front desk, maka namanya akan disebut oleh pegawai penerima tamu.

Disneyland Hotel dan Disney World Resort misalnya, sangat jitu dengan berbagai paket mereka. Mulai dari paket liburan anak-anak, paket honeymoon, hingga paket meetings and conventions yang membidik korporasi besar. Bahkan Disney Cruise menawarkan keunikan- keunikan bagi anggota keluarga, dari yang termuda hingga yang tertua. Berbagai liputan acara televisi travel show turut membantu mendongkrak citra mereka tanpa perlu mengeluarkan biaya sangat besar untuk membeli air time televisi.

Pemasaran kreatif yang terpercaya akan membangun lebih dari sekadar citra. Baik hotel-hotel dan convention center maupun kota tempat event berlangsung, biasanya menyadari akan pentingnya membentuk berbagai event penunjang agar diseminasi informasi akan kelebihan- kelebihan mereka dapat tersampaikan kepada komite- komite penyelenggara event (klien penyewa lokasi).

Ini pentingnya peran biro konvensi (convention bureau) dan biro pariwisata kota (city tourism bureau) yang turut membangun animo sehingga mereka “dilirik” oleh para penyelenggara event.

Pemasaran Berbagai Tingkatan

Setiap bisnis yang berhubungan dengan industri MICE sebaiknya mengikuti standar internasional yang telah lama dipercaya. Bergabung dengan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan UNWTO merupakan salah satu strategi untuk membangun kepercayaan para stakeholder.

Beberapa organisasi afiliasi yang mempunyai reputasi baik termasuk ICCA (International Congress and Conventions Association), MPI (Meeting Professionals International), Joint Meetings Industry Council, PCMA (Professional Convention Management Association), dan lainnya.

Dengan bergabung secara organisasi, pemilik bisnis MICE mempunyai akses akan berbagai benchmark terbaik. Selain itu, berbagai acara pelatihan dan roundtable meeting yang diselenggarakan bagi member companies merupakan mata air inspirasi dan sarana pembelajaran berharga.

Secara garis besar, strategi pemasaran event-based MICE dilakukan dalam empat tingkatan: internasional, regional, industri, dan korporasi.

Dalam tingkat internasional, UNWTO dan negara-negara yang menggalakkan industri pariwisata mereka merupakan bentuk dukungan “lingkungan” alias “atmosfer” yang memberikan rasa nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya industri ini. Dalam tingkat internasional, berbagai kerja sama antar pelaku bisnis dan organisasi yang bersinergi.

Dalam tingkat industri, peran organisasi-organisasi tempat para business players bergabung memungkinkan terjadinya kerja sama pemasaran dan “kontrol terbatas” dalam industri tersebut -sepanjang sejalan dengan hukum dan etika bisnis international. Dalam tingkat korporasi, pemasaran berfokus kepada lead generation dan prospecting, sambil membina repeat customer dengan melibatkan setiap individu dari tingkat manajer hingga janitor.

Dalam perspektif korporasi penyedia jasa MICE, strategi pemasaran offline dan online (dalam konteks internet) perlu dijalankan secara bersamaan. Berbagai leverage yang bisa dilakukan dengan software dan aplikasi mutakhir, seperti Salesforce, disinkronkan implementasinya. Strategi online marketing lebih dari sekadar eksis di media-media sosial seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Sebuah strategi online marketing yang jitu, dengan menggabungkan kekuatan teknologi dan kekuatan soft skills manusia dalam mengidentifikasikan kesempatan dan menyesuaikan suplai dengan kebutuhan. Dengan kata lain, karena fokus bisnis industri EBT MICE adalah “konsolidasi” maka fleksibilitas dalam mengenali kebutuhan klien dan mempertemukannya dengan suplai yang ada merupakan kunci “flawless performance” alias performa yang tanpa cela.

Sebelum kebangkrutannya di tahun 2013, Detroit merupakan kota manufaktur otomobil yang dikagumi dunia sehingga berbagai MICE yang berhubungan dengan mobil dan kendaraan bermotor berpusat di sana.[]

Jennie M. Xue adalah Kontributor Tetap FMPM Desk Amerika. Tinggal di Silicon Valley, California, AS. 

Forum Manajemen Prasetiya Mulya, Juli – Agustus 2015

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This