Select Page

Selamat Beraktivitas di Tahun yang Baru. Banyak Berkat bagi Semua.

[Download PDF KONTAN WEEKLY Pencerahan Sebagai Skill]

oleh Jennie M. Xue

Enlightenment alias “pencerahan” sering digunakan dalam konteks religius. Dalam konteks pengembangan diri, sesungguhnya istilah ini mengacu kepada kemampuan untuk mengoptimasi atau bahkan memaksimalkan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki secara organik.

Penulis secara bebas mendefinisikan kondisi “pencerahan” sebagai “pengetahuan dan kemampuan eksekusi yang mendalam dan paripurna.” Jadi, ini lebih dari sekedar “tahu” dan “paham” belaka.

Dalam beberapa artikel Rubrik Refleksi terdahulu, penulis pernah membedakan makna “tahu,” “paham,” dan “mampu eksekusi.” Ketika Anda hanya sekedar pernah dengar mengenai suatu konsep atau terminologi, maka Anda hanya “tahu,” belum memahaminya. Hanya kulitnya yang terlihat.

Anda “paham” akan konsep tertentu apabila Anda mampu memberikan definisi dan mengungkapkan fungsi fitur-fiturnya secara garis besar. “Memahami” belum pasti mampu mengeksekusi. Hanya memandang dagingnya, namun belum menggerakkannya.

Dalam artikel ini, “pencerahan” yang dimaksud telah melampaui kemampuan eksekusi. Enlightenment sebagai skill sangat berguna dalam menjalankan hidup, bisnis, dan karir. Untuk mencapainya, tentu dibutuhkan waktu dan tempaan yang cukup panjang.

Pertama-tama, kenali kapital alias aset diri sepenuhnya. Apa yang Anda sukai belum tentu merupakan aset. Dan sebaliknya, apa yang merupakan aset diri belum tentu sesuatu yang Anda nikmati keberadaannya.

Yang dimaksud dengan “aset diri” atau “kapital diri” adalah keahlian, ketrampilan, talenta, hobi, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Bisa saja Anda bekerja sebagai pengendara Uber, namun ini hanya mata pencaharian, padahal kapital diri Anda sebenarnya bernyanyi dan bermain piano, misalnya.

Contoh lain, Anda menyukai angka-angka dan Matematika. Apa sih yang sebenarnya Anda nikmati? Analisis? Kalkulasi? Korelasi kuantitatif dengan kualitatif? Kenali betul kapital diri sedetil mungkin.

Kedua, kenali aktivitas apa yang membuat Anda dalam kondisi “flow.” Profesor Psikologi di Claremont Graduate University Mihaly Csikszentmihalyi menggunakan istilah ini untuk keadaan fokus namun rileks dalam menjalankan aktivitas.

Dalam keadaan “flow,” seseorang tidak merasa lelah beraktivitas dan bisa lupa waktu. Ketika Anda menemukan kapan ber-flow-ria, maka sesungguhnya aktivitas tersebut merupakan kunci sukses. Optimasikan aktivitas flow, maka sukses dapat dipastikan telah di tangan.

Ketiga, tingkatkan kualitas kemampuan diri dengan berbagai cara. Setelah menemukan aktivitas yang membuat Anda dalam kondisi “flow,” tingkatkan kemampuan tersebut. Berbagai pendekatan dapat dilakukan. Belajar mandiri, berlatih dengan coach atau trainer, atau bahkan menggunakan jasa mentor.

Seorang mentor yang baik semestinya mampu memberikan arahan optimasi kemampuan yang tidak didapatkan di bangku sekolah atau training formal. Seorang mentor juga merupakan sumber teladan perilaku yang sesuai. Apabila memungkinkan, carilah seorang mentor yang tulus hati dan mengharapkan kesuksesan Anda.

Keempat, goncangkan status quo secukupnya untuk memicu diri. Karena dalam keadaan “terpaksa,” kita terpacu untuk mengembangkan diri. Dengan memaksa diri, kita terpicu untuk mengambil resiko. Temukan “state of flow” yang tepat, sehingga memacu diri tidak terasa terlalu berat.

Kelima, hasil luar biasa membutuhkan usaha luar biasa. Mengoptimasikan diri membutuhkan tekad dan eksekusi stabil berkesinambungan. Dan pencerahan baru diraih apabila proses dijalankan dengan rileks dan terjadi secara organik.

Make it second nature. Jadikan ini sealamiah mungkin. Jalani aktivitas hingga mencapai kondisi “flow” tanpa banyak berpikir dan mengeluh.

Sebagaimana seseorang pecinta seni, misalnya, dunia dipandang dari mata estetika. Seorang ahli Matematika memandang dari mata angka-angka. Dan seorang pakar fashion memandang dari mata tren fashion terkini.

Ketika Anda telah memandang dunia dari satu skill yang sering menghantarkan ke kondisi “flow,” maka itulah salah satu bentuk pencerahan. Dan ketika Anda telah menyamakan hidup dengan skill tersebut, maka Anda telah berada dalam poros pencerahan tersebut.

Bagaimana pencerahan dipertahankan dalam keseharian, tentu merupakan tantangan tersendiri. Stay hungry, stay foolish, kata mendiang Steve Jobs. Tetaplah lapar dan “merasa bodoh” namun dalam porsi yang tidak berlebihan.

Mindset berkelimpahan dalam hal kepemilikan informasi dan materi janganlah dilawan dengan filosofi “tetap lapar, tetap bodoh.” Keduanya mungkin terdengar berlawanan, namun sesungguhnya saling melengkapi. Kita berkelimpahan namun tetap rendah hati untuk selalu belajar dari orang lain, diri sendiri, dan situasi.

Akhir kata, pencerahan perlu diusahakan. Ia tidak akan datang dengan sendirinya apabila Anda berdiam diri. Semakin terasah skill pencerahan Anda, semakin cerahlah diri, pikiran, hati, dan masa depan Anda.[]

KONTAN WEEKLY, 2-8 Januari 2017

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This