Select Page

fortune

Download Artikel Opini, Fortune Indonesia Vol. 33, Maret 2012

oleh Jennie S. Bev

Sebagaimana Ilmu Psikologi konvensional, Ilmu Ekonomi dan Ilmu Manajemen juga berdasarkan paradigma patologi. Secara umum, paradigma patologi berbasis segala bentuk dan varian ketidaksempurnaan, ketidakberesan, ketidakmampuan, dan kekurangan. Paradigma sendiri berarti kumpulan konsep fundamental, asumsi, dan keyakinan yang menjadi dasar pemikiran dan landasan bagi pola-pola pikir. 

Gejala-gejala ekonomi yang dialami dunia berbasis kapitalisme, kini sedang menunjukkan kadaluwarsanya paradigma. Ekonomi yang berbasis ekonomi ala Adam Smith berpegang pada kasus-kasus masa pra-industrial dengan sumber daya yang masih melimpah dan bumi yang masih belum berpopulasi 6 milyar jiwa. Penguasaan alam dan sumber daya yang linear memperdalam patologi yang dialami dunia sekarang.

Sudah saatnya konsep kapitalisme diperbaharui, karena kerusakan-kerusakan permanen telah mengancam kesejahteraan dan keberadaan manusia di muka bumi.

Apakah umat manusia lebih sejahtera dengan konsep kapitalisme linear ini? Jika ya, berdasarkan data dari Harvard University, mengapa 20 persen alias 1.5 millyar dari umat manusia tidak berkecukupan gizi? Lebih dari 9 juta jiwa mati setiap tahun karena kekurangan gizi, 11 juta anak mati karena penyakit-penyakit yang bisa dicegah, seperti malaria dan diare, lebih dari 1 milyar jiwa tidak mempunyai akses air bersih, dan lebih dari 2.4 milyar jiwa tidak mempunyai kamar kecil yang bersih.

Dalam Ilmu Ekonomi dan Ilmu Manajemen, asumsi-asumsi yang digunakan masih berdasarkan problematika, seperti bagaimana meningkatkan output produksi karena rendahnya hasil produksi, bagaimana meningkatkan total pemasaran karena lemahnya sistem dan jaringan pemasaran, dan bagaimana mengatasi masalah-masalah human resources karena masalah-masalah kepemimpinan dan pengelolaan yang dialami tim kerja. Namun tampaknya masalah-masalah semakin hari semakin besar dan dalam dalam skala global, sehingga ketimpangan-ketimpangan semakin menjalar. 

Pertanyaan berikutnya? Mengapa dengan semakin lancarnya pergerakan bisnis global, semakin besar ketimpangan yang dialami? Apa arti semua ini?

Dengan semakin dalamnya patologi yang diderita dunia, paradigma ini jelas bermasalah. Sistem-sistem yang diciptakan oleh kapitalisme linear tidak lagi sahih di dunia yang semakin padat dan tereksploitasi ini. Kesejahteraan semakin terpusat di tangan pemegang kapital besar, yang dikenal dengan one-percenters (1 persen) dan mereka yang memegang kapital kecil dan menengah masih termasuk di dalam 99-percenters (99 persen).

Dalam skala ekonomi makro, Adam Smith, David Ricardo, dan Milton Friedman membentuk dan mempertahankan paradigma tangan-tangan tak terlihat (invisible hands) yang masih dipakai hingga kini. Tangan-tangan ini mempertahankan paradigma patologi dengan proteksi-proteksi yang memonopoli, sistem mercantilism yang memfilter dan membendung aliran barang dan moneter, dan rendahnya transparansi akan kerugian-kerugian sosial (social costs) yang ditimbulkan oleh produksi dan distribusi.

Menggeser paradigma lama ke paradigma baru memerlukan kesadaran akan adanya patologi yang membusuk di dalam sistem kapitalisme yang ada. Perhatikan betapa pengelolaan sumber daya alam yang sembrono menyebabkan masa depan bumi semakin tidak menentu, ditandai dengan global warming. Perhatikan juga bagaimana distribusi kekayaan (wealth distribution) semakin parah dengan penguasaan 1 persen dari populasi atas 99 persen lainnya. Social costs dari suatu produk bisa mencapai sepuluh bahkan puluhan kali lipat harga jual, seperti sepotong hamburger yang hanya dijual USD 3 mempunyai beban sosial di masa kini dan masa depan mencapai USD 30. Yang dimaksud dengan beban sosial adalah dampak-dampak negatif yang menganggu kesejahteraan konsumen dan lingkungan, seperti dampak kesehatan, lingkungan yang tercemar, dan terganggungnya ekologi yang berkesinamnungan. 

Tahap awal perbaikan dan pergeseran paradigma sudah dimulai dengan green economy. Namun ini bukanlah segalanya. Green economy membantu dalam pembentukan kesadaran awal akan pentingnya pengukuran kesejahteraan lain selain GDP yang mengukur lebih dari sekedar kuantitas langsung (direct quantity), namun juga ekses-ekses tidak terlihat dan kontribusi lain yang tidak dikuantifikasikan, seperti Genuine Progress Indicator, Sustaintable Economic Welfare, dan Happy Planet Index.

Sedikit sejarah pembaharuan Ilmu Psikologi yang dapat dijadikan benchmark bagi Ilmu Ekonomi dan Ilmu Manajemen. William James profesor Psikologi dari Harvard mempertanyakan pencaharian peran Ilmu Psikologi bagi individu yang sehat secara mental. Ini membuka cakrawala pencerahan baru atau paradigm shift. Pada tahun 1998, paradigm shift ini melahirkan cabang Ilmu Psikologi baru yang tidak berbasis patologi, melainkan berdasarkan paradigma bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk mengoptimalkan potensi. Dua pendiri Psikologi Positif Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi mempelopori riset-riset tentang pemaksimalan daya karya individu melalui proses yang dinamakan “flow.”

Masih kita tunggu perkembangan Ilmu Ekonomi dan Ilmu Manajemen yang mencerahkan, bukan hanya bersifat seperti seorang konsultan manajemen atau dokter yang “mengobati” penyakit saja.

Bisnis masa depan yang berparadigma masa depan, tidak lagi semata-mata pertukaran barang dan jasa dengan uang. Bisnis masa depan berparadigma kebaikan (betterness), sehingga konsumen dan seluruh stakeholder (termasuk umat manusia secara global) menjadi lebih baik, lebih cerdas, lebih bijaksana, lebih bahagia, dan hidup dengan lebih baik dengan menggunakan metode circular, tidak linear dan dengan pembaharuan institusi yang tidak terbatasi oleh efisiensi belaka. Paradigma betterness ini diperkenalkan oleh ekonom Harvard University Umair Haque.

Sudah saatnya kita berubah karena dunia telah berubah.[]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This