Select Page


[Download PDF KONTAN DAILY Mengendalikan Kecemasan di Era Tidak Menentu]

oleh Jennie M. Xue

Hidup itu pakai strategi, salah satunya adalah menerapkan strategi hidup dalam berbagai taktik survival skills. Pengendalian ansietas (anxiety) atau kecemasan yang tidak perlu merupakan salah yang paling berguna.

Setiap saat, kita dibombardir dengan kecemasan. Kok kendaraan belum datang padahal meeting 30 menit lagi? Aduh, lupa bawa laptop padahal perlu pakai PowerPoint untuk meeting. Cilaka, kok hujan lagi, ntar banjir lagi. Banjir kemarin saja belum surut. Alamak, tahun depan akan resesi lagi? Semoga tidak kena PHK.

Waduh, Jakarta akan tenggelam dalam dua dekade? Kok Pemerintah nyantai aja sih? Bagaimana nasib anak-anak saya ketika dewasa nanti? Bisakah saya dan keluarga pindah ke luar negeri atau pulau sebelum bencana ini terjadi? Dari mana saya perlu memulai merencanakannya?

Kecemasan demi kecemasan membombardir pikiran kita. Tiada hari tanpa kecemasan. Tentu saja, gaya eksternal sih tetap cuek bebek bodo amat dan tebar senyuman mempesona. Namun dalam lubuk terdalam sebenarnya setiap saat kita dilanda kecemasan kronis (jangka panjang), bukan hanya yang akut (jangka pendek).

Sayangnya, masih sangat banyak di antara kita yang tidak melek kesehatan mental alias kesehatan psikis. Sebenarnya mudah saja, setiap diri kita mempunyai elemen kasat mata dan tidak kasat mata. Yang kasat mata adalah tubuh kita. Yang tidak kasat mata terdiri dari psikis (mental dan emosi) dan rohani (bersifat spiritual).

Kesehatan psikis ini sangat jarang dibahas dan bahkan dianggap “tidak ada.” Buktinya, ketika seseorang patah kaki, maka ia akan sangat diperhatikan oleh setiap orang yang berhubungan dengannya. Semua memastikan kaki yang sedang gips tersebut tidak terinjak atau terantuk benda tajam karena kita sudah meringis membayangkan rasa sakitnya. Kesehatan fisik pentingnya terasa.

Namun ketika seseorang terkena trauma besar seperti perkosaan, perceraian, dan lainnya yang menggempur psikisnya hingga sangat tipis dan retak, cukup sering bukan empati yang didapat namun bullying dan ucapan-ucapan yang mengerdilkan seperti “loe sih lemah,” “loe sih ngga sabaran,” “loe sih pakai baju mini,” “loe sih keras kepala jadi dipukul suami,” dan sebagainya. Kesehatan psikis tidak dipandang sebelah mati.

Nah, kecemasan merupakan salah satu bentuk benturan terhadap psikis yang mengikis kesehatan mental. Ansietas berlebihan dan kronis bisa menyebabkan depresi yang bisa saja bermuara kepada kematian.

Bayangkan psikis Anda seperti kapal dan setiap kecemasan sekecil apapun adalah jarum yang melobangi dindingnya. Setelah menahun tanpa penyelesaian dan self-care, maka kapal akan karam juga. Bagaimana bisa bekerja secara produktif?

Jangan-jangan, para pekerja di Indonesia saking hidup dalam kecemasan, tubuh mereka hadir di kantor namun pikiran ke mana-mana. Jadilah pekerja Indonesia termasuk salah satu yang paling rendah produktivitasnya di seluruh dunia. Sayang, bukan?

Kenali ansietas anggota tim Anda. Komunikasikan secara terbuka dan cari jalan bagaimana organisasi dapat meringankan ansietas mereka. Minimal yang bersifat umum dan dapat diatasi oleh manajemen secara independen maupun dengan bersinergi.

Kedua, ajak anggota tim Anda untuk mengenai ansietas mereka sendiri dan memberikan tools untuk menanganinya. Sebagaimana jika ada yang sakit di kantor, manajer akan memberikan obat dan mengantarkannya ke dokter. Sudah waktunya, Anda juga memberikan perhatian yang sama ketika anggota tim mempunyai masalah kesehatan mental.

Ada satu tool sederhana yang dipelopori oleh Psikolog Klinis Dr. Scott Symington yaitu TSM (Two-Screen Method). Caranya begini, bayangkan pikiran Anda bagaikan layar monitor.

Monitor depan (front screen) untuk pikiran positif dan monitor samping (side screen) untuk pikiran negatif. Ketika ansietas, kemarahan, dan yang negatif-negatif lainnya melanda, simpan pikiran-pikiran tersebut ke side screen.

Pikiran-pikiran negatif tidak perlu ditolak secara mentah-mentah, dengan kata lain tidak ada denial. Mereka diterima, namun hanya disimpan di bagian periferi pikiran kita.

Gunakan front screen sebagai sarana untuk hidup produktif. Ia adalah tempat disimpannya mental anchor, yaitu mindfulness, healthy distractions and activities, dan loving actions. Yang terakhir ini sangat penting mengingat dunia yang semakin cemas ini membuat kita semakin “malas” berbuat baik dan self-centered.

Silakan dicoba mental health tools ini. Ini hanya salah satu dari sekian banyak tools yang dapat Anda pakai dalam mengatasi kecemasan dan negatifnya hidup di era tidak menentu ini. Niscaya produktivitas semakin baik seiring semakin sehatnya mental kita.[]

KONTAN DAILY, Jumat, 10 Januari 2020

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest