Select Page

Kontan

Download KONTAN Daily Efek Bola Salju 

oleh Jennie M. Xue

Bisakah kita menciptakan efek bola salju? Efek bola salju yang terus menggulung dari atas sampai bawah akan terus menciptakan gulungan bola yang kian membesar. Setiap bisnis memerlukan multiplier effect yang memberikan kesempatan untuk bisa terus berkembang berlipat ganda. Ini memerlukan kesiapan dalam memberikan nilai lebih.

Multiplier effect artinya keseluruhannya lebih besar dari bagian-bagiannya (the sum is greater than its parts). Ini memerlukan kesiapan dalam mengkomunikasikan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan produk. Di era social media, mungkin yang pertama kali muncul di kepala adalah mengkomunikasikan aktivitas-aktivitas via Facebook, Twitter dan blog.

Jika efek dari komunikasi tersebut berkali-kali lipat, maka bisa dipastikan keberhasilannya. Salah satu produk mainan anak-anak yang terbuat dari kertas bernama Crazy Birds yang dijual murah meriah sebagai “saingan” versi computer game Angry Birds yang mahal untuk mereka yang berpenghasilan lebih tinggi, merupakan contoh keberhasilan produk dengan startup capital yang tidak seberapa namun memberikan hasil gegap gempita.

Apa rahasianya? Untuk karakter-karakter kartun yang dilisensikan seperti Sanrio, Disney, Nickelodeon, dan DC Comics, inti multiplier effect-nya adalah penggunaan media massa secara optimal, bahkan maksimal. Kehadiran karakter-karakter tersebut memang mengagumkan sebagai bagian dari pop culture. Dan memastikan kehadiran sebagai bagian dari kultur pop merupakan tantangan tersendiri.

Di Indonesia, para presenter profesional menggunakan metode yang kurang lebih sama. Mereka mengutamakan network di kalangan media. Dengan optimasi komunikasi dengan media, kemungkinan untuk “dilirik” menjadi berkali-kali lipat. Istilahnya adalah menciptakan buzz.

Produk-produk populer seperti buku non-fiksi, notes, majalah, kolom majalah, presentasi pro bono ke berbagai kalangan, presentasi pro bono sebagai “pemancing” pembelian produk, dan berbagai komunikasi khusus dengan media lainnya seperti radio show dan TV show juga sangat membantu sebagai buzzers. Intinya adalah low cost, high impact.  

Industri film Hollywood dan Bollywood juga mengandalkan kekuatan media secara maksimal dengan menciptakan antisipasi dan menumbuhkan kuriositas penonton jauh sebelum film-film tersebut dipasarkan. Movie trailer di setiap awal show mengkondisikan kuriositas dan antisipasi yang luar di dalam benak penggemar film. Apalagi film-film tersebut dibintangi oleh para “legendaris” kesayangan mereka.

Industri film Hollywood berhasil menciptakan “legenda-legenda” perfilman sejak masa-masa jaya mereka di tahun 1950 dan 1960an dengan Marilyn Monroe, James Dean, Rita Hayworth, Eva Gardner, dan Cary Grant hingga para legendaris masa kini dengan ikon-ikon seperti Angelina Jolie, Brad Pitt, Jennifer Aniston, Russell Crowe, dan Hugh Jackman. Juga lainnya.

Di Indonesia, kehadiran “bintang-bintang” bisa kita jumpai dalam berbagai ikon kultural yang mengena di hati konsumen. Crazy Birds dan para presenter laris sebagai contohnya. Selain itu, produk dan jasa yang berbasis integritas seperti Blue Bird dan Kompas juga mendapatkan tempat sangat istimewa. Sayangnya, perfilman Indonesia baru menelurkan beberapa ikon kultural yang pantas dicatat, padahal gemanya bisa sangat besar ke seantero dunia sepanjang mengadopsi strategi-strategi yang baik dan jitu seperti Hollywood.

Nah, bagaimana agar kita bisa menikmati multiplier effect ala Hollywood?

Pertama, perjelas fokus, tujuan, dan fungsi. Film yang sedang digarap sebaiknya mempunyai pesan moral yang membangun setiap penonton. Beberapa sinetron-sinetron televisi Indonesia, misalnya, kurang jelas pesan moralnya sehingga agak membosankan. Namun yang pesat pesannya untuk pengembangan dan perbaikan diri semakin baik diterima penonton.

Kedua, gunakan berbagai strategi secara simultan dalam kampanye. Istilah Michael Hyatt adalah gunakan platform yang tepat. Kerja sama bersinergi dengan berbagai industri dan produsen produk-produk yang tidak saling berkompetisi akan sangat baik apabila saling menunjang. Bisa saling mengisi dan melengkapi.

Ketiga, ide-ide strategis yang terintegrasi dalam premis yang jelas dan doable. Value selling proposition bisa digunakan pada awalnya sehingga ada keunikan tertentu yang ingin dijual. Solusi suatu permasalahan memang paling jitu dalam menelurkan produk dan jasa. Untuk publik Indonesia, penggunaan ikon kultural individu cukup memberikan riak besar dalam publisitas.

Efek bola salju selain bisa didapatkan dengan publisitas, penggunaan berbagai fitur e-commerce juga akan sangat membantu, seperti pricing comparison dan lainnya. Selamat mencoba. []

KONTAN Daily, 14 Februari 2014

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This