Select Page

Kontan Logo

KONTAN Weekly Jurang Kaca dan Efek Abramson

oleh Jennie M. Xue

Ada apa dengan ekualitas gender dalam bisnis? Perhatikanlah para perempuan dengan posisi tertinggi di bisnis-bisnis raksasa yang tiba-tiba dipecat dari “singgasana”-nya untuk alasan-alasan yang “dianggap biasa” oleh para pria. Kultur “dunia adalah milik pria” bukan hanya slogan oleh para feminis.

Di Amerika Serikat sekalipun, perempuan masih mengalami kesulitan dalam mempertahankan posisi di puncak dalam lingkungan bisnis. Yang terjadi bukan hanya langit-langit kaca (glass ceiling) tapi juga jurang kaca (glass cliff).

Standar ganda sangat terasa dalam berbagai wawancara dengan jurnalis mengenai posisi mereka. Apakah Anda bisa menyeimbangkan posisi sebagai CEO dan seorang ibu? Dijawab oleh CEO Pepsico Indra Nooyi bahwa “saya tidak bisa mendapatkan dua-duanya” (baca: http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/07/why-pepsico-ceo-indra-k-nooyi-cant-have-it-all/373750/). Ini jawaban seorang CEO yang berhasil mempertahankan posisinya di peringkat teratas bisnis internasional sejak 2001.

CEO General Motors Mary Barra pernah diwawancara oleh Matt Lauer dalam The Today Show mengenai hal yang sama. Mary menjawab bahwa ia berharap bisa berhasil dalam bisnis dan keluarga.

Apakah pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para eksekutif pria? Sudah jelas tidak. Pria tidak diharapkan “berhasil” dalam urusan rumah tangga karena ada seorang istri yang “bertugas” untuk membina keluarga dan anak-anak. Pria hanya diharapkan sebagai seorang eksekutif yang baik dan membawa sukses bagi perusahaan dan diri sendiri.

Untuk kebijakan bisnis yang sama, CEO Yahoo! Marissa Mayer dikritik keras oleh para eksekutif dan media ketika ia menyatakan bahwa para pegawainya tidak diizinkan untuk bekerja secara telecommute dari rumah. Sebaliknya, untuk kebijakan yang sama, Hubert Joly yang memimpin Best Buy hanya diberitakan sekelumit dan tidak dicaci-maki atau dikritik secara keras.

Baik secara statistik maupun secara manajerial, tidak ada catatan pasti mengapa perempuan lebih banyak dipecat dari posisi-posisi yang high profile.

Ron Johnson CEO JC Penney dipecat bulan April 2013 setelah hanya 17 bulan membenahi department store yang kolaps. Hanya sebentar ia diberitakan. Sedangkan, pada bulan Mei 2014, Jill Abramson Executive Editor New York Times dipecat setelah bekerja di sana selama 16 tahun dan memimpin sejak 2011. Sejak itu, namanya sama sekali tidak tercantum di dalam daftar editorial sama sekali, seakan-akan ia tidak pernah bekerja di sana.

Kata-kata tidak senonoh yang menggambarkan kepribadian Abramson muncul di media: bitchy, keras kepala, menyebabkan kekawatiran berlebihan, dll. Bandingkan ketika Ron Johnson dipecat. Diberitakan singkat dan tidak ada demoralisasi dengan sebutan-sebutan tidak senonoh. Jika karakter Abramson “memuakkan” sehingga ia pantas dipecat, bandingkan dengan Eliot Spitzer mantan gubernur Negara Bagian New York yang dipandang arogan dan tidak mau berkompromi. Ia mengundurkan diri karena skandal seks, bukan karena asumsi karakter kurang tepat.

Siapa lagi kisah perempuan yang dilempar keluar dari ketinggian puncak tanpa “alasan jelas”? Cukup banyak: Carly Fiorina dari Hewlett-Packard, Ina Drew dari JPMorgan Chase, Sallie Krawcheck dari Citigroup dan Bank of America, Zoe Cruz dari Morgan Stanley, Tina Brown dari Daily Beast show, Ann Curry dari Today show, Katie Couric dari CBS Evening News, Carol Bartz dari Yahoo!

Tentu saja kita tidak bisa men-generalisasi bahwa setiap jatuhnya para pemimpin perempuan disebabkan oleh standar ganda, langit-langit kaca, dan jurang kaca. Dan tentu saja kita juga tidak bisa dengan oversimplikasi membuat pernyataan bahwa “perempuan memang kurang mampu memimpin.”

Jatuhnya para CEO perempuan dari perusahaan-perusahaan publik internasional dalam 10 tahun terakhir mencapai 38 persen, padahal yang pria hanya 27 persen. Dan di tahun 2013, hanya 3 persen CEO baru yang berkelamin perempuan. Di AS, hanya 18 persen partner dalam firma hukum yang perempuan, 15 persen anggota board of directors yang perempuan, dan 17 persen anggota legislatif yang perempuan. Sangat sedikit padahal jumlah perempuan di perguruan tinggi lebih banyak daripada mahasiswa pria. Bahkan penulis opini di media massa juga sangat jarang yang perempuan.

Marilah fakta ini membuka diskusi lebih panjang dan dalam mengenai ekualitas gender di dunia dan di Indonesia. Minimal yang bisa kita lakukan dalam perjuangan kesetaraan ini: gunakan kata-kata netral dan tidak seksis di dunia kerja. Perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan para pria.[]

KONTAN Weekly, 29 September – 5 Oktober 2014

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This