Select Page

Diterbitkan di KONTAN DAILY, Jumat, 20 Maret 2020
[Download PDF KONTAN DAILY Era Startup Akhir Pekan]

oleh Jennie M. Xue

Jika Anda memiliki skill web development yang cukup, skill riset dan pengisian konten yang cukup, serta skill digital marketing yang cukup, tidak ada lagi kata “tidak bisa sukses” di era startup serba klik-klik ini. Bahkan, hanya dengan punya waktu di akhir pekan saja, startup sederhana telah bisa dimulai, diselesaikan, dan dirilis.

Berbagai metodologi startup telah dijalankan di berbagai komunitas startup dunia. Bagaimana sih pilihan metodologi startup itu?

Penulis sendiri menggunakan metodologi Lean dan Agile. Dua metode ini saling mendukung.

Metodologi Lean adalah pendekatan sain yang digunakan untuk merencanakan dan mengelola startup agar produk dapat secepat mungkin diselesaikan dan dijual. Metode ini memberi pegangan kapan untuk berbelok arah, kapan berhenti, dan kapan untuk akselerasi.

Metode Agile adalah siklus hidup manajemen suatu proyek (project management) dari awal perencanaan hingga eksekusi dan komplesi. Awalnya metode ini digunakan di dunia industri software di Silicon Valley untuk meningkatkan efisiensi kerja.

Dalam metode konvensional, suatu proyek mengikuti pola garis lurus. Target adalah suatu titik pencapaian dan tidak bergerak. Jadi, agak “kaku” dan beku.

Dalam Metode Agile, proses mengalami iterasi di setiap fase (milestone). Pada intinya, metode ini mengutamakan kepercayaan, fleksibilasi dan kolaborasi antar anggota tim. Adaptasi akan berbagai kondisi selalu terjadi. Target tidak lagi kaku, namun mengikuti ombak gerakan sepanjang destinasi terukur.

Metode tradisional, misalnya, membangun suatu proyek dari dasar, sebagaimana membangun suatu rumah. Jadi, pondasinya dulu yang dibangun di sepetak tanah berukuran 20×5 meter persegi.

Setelah fondasi selesai, barulah dibangun kerangka bangunan dari depan hingga belakang. Dan seterusnya hingga proses pengecatan tembok ketika semua dinding dan atap selesai dipasang. Ini disebut Metode Waterfall atau Air Terjun, karena semuanya sekaligus dituangkan.

Jika kita gunakan Metode Agile, sepetak tanah 20×5 dibagi menjadi 5×5 bagian pertama, 5×5 bagian kedua, 5×5 bagian ketiga, dan 5×5 bagian keempat. Bagian pertama dibangun dari fondasi hingga atap hingga selesai sepenuhnya. Demikian seterusnya. Semua bertahap.

Demikian pula dengan pendirian sebuah startup. Mulai saja dengan super mikro bagian kecil sekali. Tidak perlu menunggu hingga fondasi kelar semua. Satu bagian kecil dipilih untuk diselesaikan sebaik mungkin. Setelah itu bagian kecil kedua, bagian kecil ketiga, bagian kecil keempat.

Metode ini dipakai dalam pembangunan startup yang lean (tanpa lemak) berarti sangat adaptif akan setiap jengkal kebutuhan dan perubahan. Ada beberapa tip untuk mengaplikasi lean startup yang diperkenalkan oleh Eric Ries di tahun 2011 ini.

Satu, bangun, ukur dan belajar.
Bangunlah satu seksi mikro, ukur pencapaian dan apa yang kurang. Pelajari dan perbaiki.

Dua, MVP (minimal viable product).
Tanpa perlu berindah-indah ria, produk dengan desain minimal namun telah dapat diujicoba, jalankan saja. Mockup alias demo site saja cukup untuk dapat mengukur berbagai hipotesa penggunaan.

Tiga, validasi pembelajaran.
Setiap pergerakan dalam milestone merupakan kesempatan belajar. Gunakan data analitiks yang semakin menjamur. Apa saja yang dapat diubah agar data semakin positif, jalankan.

Empat, pivot (mengubah keputusan).
Ini memang tidak mudah, namun ubahlah keputusan apabila tidak lagi relevan. Ada beberapa variasi pivot untuk mempermudah proses pengubahan keputusan.

Zoom-in: Satu fitur yang berhasil dijadikan satu-satunya fitur andalan.
Zoom-out: Kebalikan zoom-in, yaitu beberapa fitur dijadikan satu fitur.
Customer segment: Mengubah segmen konsumen yang ditarget.
Platform: Mengubah platformnya, misalnya menjadi ekosistem, padahal awalnya hanya aplikasi saja.
Business architecture: Mengubah dari high margin dan low volume menjadi low margin dan high volume.
Value capture: Mengubah nilai-nilai dasar, misalnya strategi marketing, produk, dll.
Engine of growth: Mengubah growth model dari yang sudah dipakai menjadi sesuatu yang baru.
Channel: Bisa saja multi-channel atau bahkan omni-channel yang dipakai, daripada satu channel saja.
Technology: Mengubah teknologi dari v1 menjadi v2, v3, v4, atau bahkan v5.

Lima, gunakan “lima mengapa” ini.

Why, why, why, why, and why. Mengapa sesuatu itu terjadi? Karena X.
Mengapa X terjadi?
Karena Y.
Mengapa Y terjadi?
Karena Z.
Mengapa Z terjadi?
Karena A, B, dan C.
Mengapa ia mengalami X, Y, dan Z?
Karena ia D, E, dan F.

Teknik-teknik di atas sangat membantu dalam menjalankan startup yang tak menentu. Gunakan dua metodologi tersebut secara cerdas, niscaya startup Anda bisa diluncurkan segera, walaupun hanya dikerjakan setiap akhir pekan saja. Salam sukses.[]

KONTAN DAILY, Jumat, 20 Maret 2020

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This