Select Page

oleh Jennie M. Xue

Saya menghadiri Blockchain Expo and Conference di Santa Clara Convention Center akhir bulan November lalu. Beberapa poin penting tentang perkembangan teknologi blockchain yang dapat menjadi pertimbangan para eksekutif C-level.

Banyak sekali informasi simpang siur tentang blockchain. Ada yang mensinonimkan dengan Bitcoin, padahal blockchain adalah teknologi di belakang Bitcoin dan berbagai aplikasi. Jadi ini bukan sinonim. Jelas, kan?

Satu, interoperabilitas masih menjadi kendala perkembangan.
Ini masih menjadi kendala. Interoperabilitas mirip dengan kompatibilitas. Bayangkan, dulu tidak setiap email klien dapat digunakan untuk saling mengirimkan email. Namun akhirnya ada pemersatu yaitu SMTP.

Pada tahap sekarang, setiap blockchain yang berbeda masih belum dapat saling berkomunikasi, namun pemersatu diperkirakan segera dipasarkan. Jadi, saat ini setiap blockchain masih berdiri sendiri. Teknologi pemersatu sedang dalam proses menuju arus tengah.

Dua, blockchain bukan situs.
Setiap bisnis dan individu perlu punya situs yang menjadi identitas diri, branding, dan storefront. Namun teknologi blockchain tidak harus digunakan oleh setiap bisnis dan individu.

Kenali apakah diperlukan atau tidak. Sektor finansial, rekam medis, asuransi, legal, HAKI, supply chain, dan manufacturing tertentu membutuhkan sekuritas yang imutabel dan inkoruptibel. Bisnis apapun yang mengandalkan trust alias kepercayaan, akan sangat terbantu oleh blockchain.

Tiga, kreativitas dan inovasi penerapan.
Aplikasi blockchain sangat membutuhkan kreativitas dan inovasi. Xceltrip, misalnya, semacam Expedia dan Agoda, namun pembayaran bisa dengan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya.

Juga Anda dapat menjadi IMP (independent marketing partner) yang trackingnya menggunakan blockchain. Industri pariwisata ternyata dapat menggunakan blockchain pula. Menarik, bukan?

Bisnis makanan organik, misalnya, bisa menggunakan blockchain sebagai bukti orisinalitas asal (product source). Demikian juga dengan bisnis B2C lainnya. Di masa depan, akan semakin umum sertifikat keaslian dan product source yang inkoruptibel ini.

Empat, aplikator masih belum banyak.
Saat ini, jika Anda masuk ke dalam dunia blockchain, Anda menjadi early adopter, seperti Amazon yang merupakan pionir e-commerce. Tidak terbatas permutasi kemungkinan model bisnis yang terbantu pesat dengan blockchain.

Lima, belum besar keyakinan bisnis akan blockchain. Namun setiap sektor sudah ada early adopter dengan model bisnis mencengangkan.

Masterworks.io, misalnya, menjual sekuritas lukisan-lukisan masterpiece, seperti Andy Warhol, Claude Monet, dan sebagainya. Hello Diamonds adalah cryptocurrency yang di-backup dengan berlian berkualitas tinggi. Crypto ber-backup berlian ini di-endorse oleh seorang pemenang hadiah Nobel Ekonomi 2010 Sir Christopher Pissarides.

Enam, adopsi membutuhkan mindset shift dan keberanian memulai sesuatu yang berbeda. Jika bisnis Anda manufacturing, misalnya, kenali titik-titik supply chain yang dapat diotentikasi dengan blockchain. Dalam sektor luxury product, misalnya, betapa bergunanya blockchain sebagai pengganti sertifikat penjamin orisinalitas.

Kendala pemindahan mindset dari “non-blockchain” menjadi “blockchain-minded” membutuhkan penegasan dari pengguna-pengguna yang dapat dijadikan benchmark. Beberapa yang dapat diamati termasuk eBay, Boeing, GE, Mastercard, Alibaba, Amazon, dan lainnya.

Tujuh, di sektor publik, blockchain jelas sangat membantu sebagai pengganti berbagai akta, sertifikasi, dan kartu identitas. Bahkan sebagai kunci antikorupsi berbagai konteks, termasuk pendanaan dan budgeting. Luar biasa penerapannya, kan?

Di negara-negara Afrika, blockchain telah mulai digunakan sebagai instrumen administrasi antikorupsi. Indonesia jelas membutuhkannya.

Akhir kata, blockchain bukan untuk segalanya. Namun ia juga bukan hype alias “ngetop sesaat.” Bitcoin dan cryptocurrency akan menjadi bagian dari ekonomi global penting dalam beberapa tahun di muka, namun bukan berarti mereka tidak punya masa pasang surut. Bahkan e-commerce sendiri punya masa surut di awal 2000.

Jadi, besarkan hati dan amati terus perkembangan penggunaan blockchain. Ketika interoperabilitas telah menjadi arus tengah, hampir tidak ada lagi penghalang bentuk-bentuk bisnis yang dapat dijalankan. You can think it, you can make it.[]

KONTAN DAILY, Jumat, 7 Desember 2018

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest