Select Page

social media blue 1500x1000

Kontan Logo

KONTAN Daily Ekonomi Virtual dan Ekonomi Social Network

oleh Jennie M. Xue

Menurut IDC, ekonomi virtual di akhir 2013 mencapai USD 16 trilyun. Menurut Boston Consulting Group, di negara-negara G20 saja, ekonomi virtual mencapai USD 4,2 trilyun di akhir 2016. Dalam 24 jam, di seluruh dunia terkirim 294 miliar email, 2 juta blog post, dan 864.000 jam YouTube video yang ditonton. Ini semua terjadi secara virtual di Internet dan di dalam jaringan sosial.

Bagi yang masih belum terjun ke dalam dunia virtual, sekarang adalah saat yang tepat. Sudah tidak bisa ditunda lagi. Evolusi peradaban manusia telah mencapai revolusi virtual dan jaringan sosial. Sebagaimana telpon, kini dunia virtual dan jaringan sosial (social network) yang terkoneksi dengan Internet sudah menjadi bagian peradaban.

Tentu saja juga sudah menjadi bagian penting dalam menjalankan bisnis. Ketika telpon baru diciptakan, ia mempersatukan dunia dengan suara, sehingga jangkaukan internasional bisa terjadi instan. Dengan faksimili, dokumen dalam sekejap melayang ke tempat lain. Dengan Internet, wajah bisnis Anda dengan sendirinya mendunia dengan biaya minim.

Bisnis-bisnis rumahan dan di toko-toko offline-pun telah terkait dengan dunia virtual. Dengan menggunakan Google Map, misalnya, dan situs review Yelp, semua terhubung. Restoran bebek di Ubud, misalnya, bisa jadi menjadi primadona di Eropa dan menjadi favorit para turis dari benua itu.

Menurut Professor Teori Fisika Michio Kaku dari City College of New York yang juga merupakan salah satu pendiri String Theory bersama Stephen Hawking, Internet telah mempersatukan planet bumi sehingga batas-batas wilayah terhapus. Bayangkan saja, biaya pulsa telpon lokal, domestik, dan internasional hampir sama dengan IP (Internet Telephony), bahkan bisa gratis misalnya dengan Skype dan berbagai aplikasi video dan audio chatting.

Ini merupakan tanda bahwa planet bumi semakin siap meninggalkan sektarian dan wilayah yang terpecah. Dengan dunia semakin tanpa batas, konsumen manapun bisa dijangkau. Toko-toko dan para pengrajin bisa dengan mudah menjangkau penjualan luar negeri dengan mempromosikan Web site e-commerce sederhana dengan Google Ads dan social media, misalnya.

Kini, “The Internet of Things” memungkinkan segala sesuatu terkoneksi secara real-time dengan Internet dan siapa saja di seantero planet bumi. Jaringan antar manusia, antar kultur, antar sistem, dan antar proses merupakan kenyataan baru.

Bahkan Internetisasi pemerintahan menciptakan demokratisasi transparan, seperti yang dilakukan oleh Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Joko “Jokowi” Widodo dengan gaya pemerintahan “apa adanya” mereka. Pada tingkat peradaban manusia berikutnya, Internet, dunia virtual, dan jaringan sosial media merupakan kenyataan “normal” sehari-hari.

Integrasi telah terjadi secara alami. Dunia nyata dan dunia virtual telah membentuk double helix yang saling mendukung. Jangkauan pasar meluas secara otomatis karena skalabilitas natural. Dan ini membutuhkan kesiapan setiap pebisnis dalam menanggapi perubahan-perubahan perilaku konsumen, ritme bisnis, dan kebutuhan yang semakin kritis.

Jaringan sosial media telah menjangkau negara-negara dunia ketiga yang dulu sangat sulit dijangkau. Ini membuka pasar baru, selain mempertahankan pasar lama di negara-negara maju dan berkembang.

Rupert Murdoch dan Meg Whitman, misalnya, sangat menyadari kekuatan baru ini dan menekankan komunikasi melalui jaringan sosial sebagai kanal komunikasi utama yang membawa ROI tinggi. Big data, cloud computing, dan mobile computing merupakan tren yang telah menjadi kebutuhan. Teknologi dan komunikasi via teknologi perlu ditanggapi dengan kritis oleh perusahaan skala besar, menengah, maupun kecil.

Seorang guru tunggal bisa mengajar seluruh dunia dengan Khan Academy. Pengrajin sepatu boot di kota kecil Texas kini menerima pesanan dari seluruh dunia. Desainer kebaya nyonya di Bogor menerima pesanan dari negara-negara Asia-Pasifik. Hanya dengan menggunakan kekuatan virtual yang terpadu harmonis dengan bisnis konvensional.

Ekonomi virtual adalah ekonomi bisnis konvensional. Tiada lagi batas.[]

KONTAN Daily, Jumat, 26 Desember 2014

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This