Select Page


Image Source: ceciliebahnsen.com


[Download PDF KONTAN DAILY Desain Fesyen Skandinavia dan Pasar Dunia]

oleh Jennie M. Xue

Siapa yang tidak kenal dengan gaya minimalis interior IKEA? Negara-negara Skandinavia (termasuk Swedia dan Denmark) sangat dikenal dengan desain-desain garis simpel, monokromatik, fungsional, dan clean. Tidak neko-neko, tidak glamor.

Abadi dan berkelas. Itulah gaya desain Skandinavia, termasuk fashion yang berfilososfi hygge ala Denmark.

“Hygge” sendiri adalah filosofi hidup mengalir, nyaman, dan merasa cukup. Jadilah fashion yang berasal dari negaranya pedongeng klasik Hans Christian Andersen yaitu Denmark sangat bercirikan filosofi ini.

Berbagai merek dagang asal Denmark dikenal sangat berfokus kepada kesinambungan dan energi terbarukan. Bahkan kota Kopenhagen dikenal dengan emisi nyaris nol-nya alias kadar polusinya nyaris nihil.

Wow, luar biasa. Sesuatu banget. Desain-desain produk aplikatif yang minimalis dan tidak punya dampak negatif terhadap lingkungan.

Dengan spirit inilah merek-merek fashion Denmark bergerak. Jika diperhatikan, fashion merek Cecilie Bahnsen yang telah mendunia mempuyai ciri khas yang sangat rileks potongan (cutting) kainnya. Tidak ada garis-garis ketat dan seksi berlebihan ala Kim Kardashian.

Cutting-nya nyaman, mengalir, dan tidak mengada-ada. Bahannya pun sangat nyaman, lembut, dan tidak mempunyai dampak lingkungan (jejak karbon) yang besar. Warna-warnanya pun monokromatik jauh dari unsur ribet dan ramai.

Ada keteduhan, kedamaian, dan kekuatan dari dalam diri yang tercermin di sana.

Desain-desainnya low maintenance dan tidak membutuhkan perawatan ekstra. Bisa disetrika atau tidak. Bahkan yang berbahan linen sekalipun.

Sedangkan detilnya tidak kalah dengan buatan fashion house Perancis. Cecilie Bahnsen sendiri merupakan salah satu finalis pemenang LVMH Prize yang pernah berkuliah mode di Royal College of Art in London dan magang di Paris.

Jadi, ia adalah salah satu alumnus penghargaan yang telah diterima oleh designer ternama Marine Serre dan Simon Porte Jacquemus. Namun dengan gaya yang jauh lebih simpel dan filosofis.

Selain memasukkan unsur minimalis, desainnya juga memasukkan unsur maksimalis, kesempurnaan dan ketidaksempurnaan. Dengan memandang setiap helai kreasinya, dapat terbaca ide filosofi apa yang menjadi dasar setiap desain.

Setiap karyanya juga dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan zaman, dipindahtangankan kepada orang lain, serta dipakai bertahun-tahun tanpa ketinggalan mode. Sangat berseberangan dengan ide “fast fashion” ala Forever 21 dan H&M.

Pasar dunia tampaknya sudah mulai hangat akan desain-desain fashion Skandinavia, apalagi kini era “fast fashion” telah mendekati akhir. Era hijau semakin militan, terutama di antara Generasi Z, yaitu generasi Greta Thunberg aktivis lingkungan kelahiran Swedia yang mengadvokasi krisis iklim dunia.

Apa yang bisa diminimalisir, minimalisasikanlah. Apa yang bisa dipakai berulang-ulang dengan zero waste, pakailah berulang-ulang agar sampah tidak semakin menumpuk di planet yang semakin menua dan sakit-sakitan ini.

Pengguna dapat memadukan fashion Bahnsen ini dengan sepatu berhak datar, sepatu Oxford, ataupun sandal Suicoke. Sepatu-sepatu berhak tinggi sangat jauh dari benak designer Denmark ini, karena itu bukanlah epitome kenyamanan ala hygge.

Beberapa strategi bisnis fashion designer dan desainer-desainer asal Skandinavia yang sangat tepat untuk kita jadikan benchmark saat ini.

Satu, filosofi hijau.
Bukan fast fashion atau fast design yang sekali pakai lantas dibuang. Setiap produk harus dapat digunakan bertahun-tahun hingga terdepresiasi habis. Jadi, perlu diperhatikan bagaimana produk dapat dipindahtangankan, dipinjamkan, dan diubahbentuk tanpa perlu memenuhi timbunan sampah.

Dua, filosofi nyaman dan mengalir (hygge).
Setiap produk perlu membawa kenyamanan pemakaian dan flow yang mengalir. Jadi, UX (user experience) sangat diperhatikan tanpa mengurangi fungsi-fungsinya.

Tiga, energi terbarukan.
Proses produksi menggunakan energi terbarukan dengan meminimalkan jejak karbon. Setiap helai benang dan kain yang digunakan telah diproses secara minimal tanpa usaha-usaha berlebihan atas nama “desain.”

Empat, menghormati hak-hak pekerja.
Idealnya, setiap unit produk dimanufaktur oleh pekerja dengan upah optimal dan hak-haknya terjamin. Dengan kata lain, setiap unit produk diproduksi secara optimal dari setiap segi, termasuk perlindungan hak-hak pekerja.

Akhir kata, di penghujung zaman ini, setiap usaha untuk menjadikan dunia sedikit lebih baik merupakan setitik embun penyejuk jiwa. Mari kita produksi produk-produk yang semakin hijau, termasuk desain-desain fashion yang “slow” dan “recyclable.”[]

KONTAN DAILY, Jumat, 14 Februari 2020

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This