Select Page

Logo koran tempo 200

oleh Jennie S. Bev

Maraton Boston
ditandai dengan dua bom rakitan dengan pressure
cooker
yang meledak di garis finish. Banyak
tanda tanya. Motif peledakan? Siapa pelakunya? Seorang pasien sakit jiwa? Ekstrimis
kanan? Kiri? Agamis? Terlepas dari motif dan pelaku Bom Boston, Amerika Serikat
menunjukkan peningkatan kekerasan bersenjata.

Yang dimaksud
“kekerasan bersenjata” di sini bukan yang bersifat kriminal, misalnya
perampokan. “Kekerasan bersenjata” diartikan penggunaan senjata secara aktif yang
mengancam keselamatan orang lain, terutama di tempat-tempat publik. Hal ini
bisa bersumber dari unsur-unsur pribadi maupun kepentingan bersifat ideologis
dengan mengatasnamakan demi “kebaikan publik.” Bisa dilakukan oleh mereka yang
mengalami gangguan psikologis maupun tidak.

Mengingat AS adalah
negara maju dengan kepemilikan senjata api (pistol, senapan, shotgun, semi
otomatis dan otomatis) tertinggi di dunia, seyogyanya berbagai bentuk kontrol senjata,
strategi pencegahan, strategi pengamanan dan intelijen massa perlu
dikembangkan, diperbaharui, dan ditingkatkan. Sayangnya, sampai saat ini bill yang mengontrol kepemilikan senjata
api dengan background check belum
tembus di senat Washington. Presiden Obama berusaha menggolkan bill ini sebagai antisipasi mencegah terulangnya
pembunuhan masal ala Newton, Connecticut bulan Desember lalu.

Sebagai contoh, Australia
berhasil menekan kekerasan bersenjata dengan kontrol regulasi dan membeli
kembali senjata-senjata api milik warga. PM John Howard melarang senjata api
otomatis dan semiotomatis sebagai respon dari pembunuhan masal di Tasmania 1996
yang memakan korban 35 jiwa. Studi Christine Neill dari Wilfrid Laurier
University dan Andrew Leigh dari ANU menunjukkan pembunuhan dengan senjata api
turun 59 persen dan insiden bunuh diri turun 65 persen, sejak larangan tersebut
diberlakukan. Studi lain juga menunjukkan bahwa pembelian kembali 3500 senjata
api per 100.000 orang berhasil menurunkan angka pembunuhan 35 sampai 50 persen.

Total 310 juta senjata
api dimiliki oleh 315 juta penduduk AS. Sekitar 40 persen keluarga AS menyimpan
senjata api di rumah. Ini berarti setiap penduduk AS memiliki satu senjata api
atau lebih. Statistik yang mengerikan. Apakah kekerasan bersenjata api yang
mengakibatkan pembunuhan masal kini telah “naik kelas” dengan menggunakan bom?

Kekerasan publik
bom pasca-9/11 sebenarnya menurun drastis. Hanya satu pemboman terjadi yaitu di
2004 oleh Dennis Mahon, seorang pengikut supremasi kulit putih yang menyerang
Don Logan, direktur diversitas kota berkulit hitam di Scottsdale, Arizona.
Sebelum 9/11, AS mengalami beberapa pemboman serius: bom truk 1993 di WTC New
York, Oklahoma City oleh ekstremis sayap kanan Tim McVeigh, dan bom 1996 Olympic
Park di Atlanta oleh ekstremis anti aborsi Eric Rudolph.

2012 merupakan
tahun penting yang menandai meroketnya jumlah kekerasan bersenjata api (bukan
bom) dan pembunuhan masal. Tujuh kali penembakan masal terjadi di tahun 2012,
termasuk penembakan bulan Desember di SD Sandy Hook di Newton, Connecticut yang
mengambil 20 jiwa anak-anak dan 6 dewasa.

FBI mendefinisikan
“pembunuhan masal” sebagai pembunuhan yang memakan empat jiwa atau lebih dan korban
penderita luka-luka. Definisi ini fleksibel, bisa kurang dari empat korban sepanjang
dilakukan di tempat publik yang membawa resiko kematian publik. 

Stephen King,
novelis supernatural yang seringkali mengeksplotasi topik-topik pembunuhan dan
kematian, dalam Kindle ebook-nya berjudul Guns,
menulis bahwa ia telah menarik dari penjualan bukunya berjudul Rage (dahulu berjudul Getting It On) yang menginspirasi beberapa pembunuhan di AS. Di tahun 1965,
remaja Charlie Decker membunuh guru aljabar-nya dan menyandera para murid. Di
tahun 1988, buku yang sama menginspirasi remaja bernama Jeff Cox di San
Gabriel, California menyandera kelas Bahasa Inggris di sekolahnya.

Selanjutnya Dustin
Pierce di Jackson, Kentucky menembak langit-langit kelas SMA-nya dengan Magnum
44 dan shotgun, sebagaimana skenario
buku Rage. Tahun 1996, Barry
Loukaitis di Moses Lake, Washington membunuh seorang guru SMA dan dua murid
sambil mengutip sebuah kalimat dari buku yang sama. Di tahun 1997, Michael
Carneal dari SMA Heath di Paducah, Kentucky menembak mati 3 orang dan melukai 5
orang. Carneal menyimpan buku tersebut di loker-nya.

“Sensor” pribadi
dari Stephen King patut diacungkan jempol. Sayangnya, beribu-ribu buku, film,
dan computer game mengeksploitasi
pembunuhan dan kekerasan. Bahkan pelatihan menembak tentara menggunakan
realitas virtual sebagai sarana training yang efektif. Bayangkan kalau realitas
virtual semacam ini merupakan “pelatihan pasif” publik untuk melakukan
kekerasan bersenjata, terutama bagi mereka yang bermasalah psikis.

Masyarakat modern memang
tidak pernah lepas dari resiko kekerasan. Apa yang terjadi di AS juga terjadi
negara-negara lain dalam skala yang berbeda. Berbagai bentuk kontrol dan
regulasi perlu diarahkan untuk menekan kekerasan bersenjata.[]

KORAN TEMPO, Sabtu, 27 April 2013

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest

Share This