Select Page


[Download PDF KONTAN DAILY Benarkah Fintech Berbasis Blockchain Revolusioner?]

Sampai hari ini, masih banyak pembaca yang mencampur-adukkan bitcoin dengan blockchain. Bitcoin adalah salah satu mata uang kripto yang dibangun atas teknologi blockchain. Jadi, blockchain adalah teknologi secure yang menjadi tulang punggung bitcoin dan ribuan aplikasi di seluruh dunia.

Banyak yang menganggap teknologi blockchain merupakan teknologi revolusioner yang akan mengubah peradaban dunia dan bagaimana kita berbisnis. Ini ada benarnya, namun teknologi ini tidaklah sesempurna hipotesis penggunaannya.

Dalam artikel ini kita bahas beberapa mitos dan fakta mengenai seberapa revolusioner blockchain. Terutama dari segi fintech.

Mitos pertama: Blockchain adalah disruptor fintect teranyar dan paling tinggi reputasinya.

Hype awal blockchain beberapa tahun lalu menempatkannya sebagai “malaikat” penolong yang dapat menyelesaikan masalah-masalah besar dunia. Tampaknya, fakta berbicara lain.

Walet-walet bitcoin dan mata uang kripto tidak rentan dari hacking dan ternyata juga bisa dibobol. Walaupun upaya pembobolan membutuhkan usaha besar dari hacker, ini membuktikan bahwa blockchain tidak seaman yang diduga. Dan blockchain versi berikutnya mestinya mempunyai fitur keamanan lebih.

Mitos kedua: Blockchain itu user friendly.

Faktanya, “password reset” tidak ada dalam platform blockchain. Selain itu, karena belum adanya interoperabilitas antar platform blockchain yang memadai, teknologi ini belum se-user friendly platform-platform lainnya. Tentu saja, kedua hal ini mestinya dapat diakali dengan sistem workflow yang baik.

Mitos ketiga: Fintech berbasis blockchain akan menghempaskan bank-bank konvensional.

Faktanya, blockchain hanya membantu bebas biaya (free free) bagi setiap transaksi peer-to-peer. Jadi, teknologi blockchain tampaknya hanya akan berperan besar dalam wire transfer, bukan menggantikan bank sebagai sebuah institusi finansial yang mempunyai otoritas meminjamkan (lending) dan menyimpan (storing) mata uang milik konsumen.

Mitos keempat: Peer-to-peer blockchain-based fintech dapat menggantikan peran bank di antara para konsumen unbankable.

Uniknya, meningat walet-walet blockchain hanya bekerja dalam ekologi iOS dan Android, para pengguna HP jadul tidak terjangkau. Transaksi kripto juga membutuhkan learning curve yang lama dan dalam, sehingga tidak menarik para unbankable.

Mitos kelima: Pemerintah mendukung teknologi fintech berbasis blockchain.

Faktanya, mengingat transaksi blockchain super konfidential dan dapat dilakukan antar peer tanpa perlu intermediasi institusi apapun, faktor money laundering dan pembiayaan terorisme mendapat sorotan tajam. Hampir mustahil ada pemerintahan yang dapat mengizinkan teknologi ini berdiri tanpa supervisi.

Jadi, agar teknologi blockchain dapat bergerak leluasa dalam fintech dibutuhkan regulasi yang terus-menerus update akan perkembangan teknologi baru ini. Untuk ini dibutuhkan political will yang besar dari setiap pemerintahan dunia. Tampaknya, masih banyak hal-hal penting daripada fintech blockchain yang perlu diperhatikan oleh para regulator.

Konklusinya, fintech berbasis blockchain belum mampu berdiri sendiri, apalagi menggantikan institusi-institusi perbankan konvensional. Yang jelas, teknologi ini mempunyai potensi untuk memberikan servis-servis baru yang mempermudah pengiriman mata uang dalam platform yang relatif aman.

Sebagai contoh, Revolut Bank di Inggris Raya menawarkan jasa jual-beli bitcoin, Litecoin, dan Ethereum. Sedangkan Everledger memvalidasi komoditas berlian sebagai bentuk simpanan.

Teknologi blockchain masihlah di fase bayi. Masih banyak PR bagi para developer blockchain untuk membangun interoperabilitas, keamanan paripurna, penerimaan masyarakat, dan lampu hijau dari para regulator dunia.

Selama blockchain masih dalam fase pertumbuhan ini, teknologi-teknologi konvensional dan institusi-institusi bank tradisional akan terus merajai peradaban dunia. Jadi, untuk apa kita mengenal blockchain? Supaya kita aware akan arah perkembangan fintech dan dunia bisnis dalam 10-20 tahun di muka.

Suatu hari, dunia akan dirajai oleh teknologi blockchain, seperti kini dirajai oleh Internet. Namun, perjalanan masih panjang dan sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk bersaing dengan kompetitor ketika masa emasnya tiba.[]

KONTAN DAILY, Jumat, 18 Oktober 2019

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest