Select Page

[Download PDF KONTAN WEEKLY Nalar dan Binari]

oleh Jennie M. Xue

Pola pikir binari (binary) cukup banyak ditemui di sekitar kita. Mereka yang berpola pikir binari ini melihat dunia sebagai “ya/tidak,” “benar/salah,” “baik/buruk,” “kalau saya benar, Anda pasti salah,” “yang ini salah, jadi yang itu benar,” “Anda senang, saya pasti sakit,” dan sebagainya.

Pola pikir binari ini membahayakan diri sendiri, orang lain, dan publik karena berakar kepada penghakiman (judgemental) dan fanatisme akan kebenaran yang dimilikinya. Padahal, di dunia ini tidak ada yang absolut benar maupun absolut salah.

Dunia adalah spektrum, bukan binari. Pahami ini sungguh-sungguh.

Ketika seseorang telah mendarah daging dalam penggunaan pola pikir binari ini, kemungkinan besar daya nalar (reasoning) yang dimilikinya semakin menurun. Karena keduanya berbanding terbalik.

Berpikir dalam dua polar ini juga menimbulkan perasaan-perasaan negatif yang tidak perlu, karena dengan “orang lain yang benar,” ia akan merasa “salah.” Ini menyakitkan.

Padahal, ketika orang lain “benar,” belum tentu dia “salah.” Dan sebaliknya.

Mengapa cukup banyak orang di Indonesia yang berpikir binari? Ada beberapa kemungkinan. Salah duanya adalah pola pikir yang diajarkan di bangku sekolah dan programming dari orang tua yang berpengetahuan minim.

Pola pikir binari diajarkan di sekolah-sekolah ketika guru mengajarkan menghafal dan multiple choice. Rot memorizing (menghafal) hanya mempertebal neural pathway ingatan, bukan kemampuan berlogika.

Jadilah seorang murid punya ingatan super, bahkan ketika yang dipelajarinya itu tidak tepat. Bukankah ini berbahaya?

Ketika seseorang berkuasa, misalnya, dalam konteks politik maupun karir, memimpin secara binari “benar/salah” menelurkan para tiran alias diktator. Tidak ada kebebasan berpikir dan tidak ada kebebasan bereksistensi.

Orang tua yang tidak mengenal prinsip-prinsip dasar parenting dan psikologi terapan, seperti perkembangan kepribadian anak di usia-usia rentan dan bagaimana menerapkan “reward and punishment,” sesungguhnya belum tepat untuk menjalankan peran sebagai orang tua. Mengapa? Karena mereka akan punya andil dalam membentuk kepribadian seseorang.

Parenting sejatinya memerlukan pengetahuan yang solid mengenai “how to be a good and effective parent.” Menjadi orang tua lebih dari sekedar hanya memberi makan, tempat tinggal, dan kesempatan belajar formal. Mereka adalah “programmer” seorang anak.

Jika orang tua berpikir binari, misalnya, ini akan tercermin dalam gaya parenting yang “ini benar, itu salah.” Sehingga anak pun terprogram dengan pola pikir demikian.

Selanjutnya, ketika dewasa, ia akan menjalankan pola pikir binari ini dalam segala segi kehidupan. Multiplikasikan ini dengan jutaan orang. Jutaan orang berpikiran binari di suatu negara, bagaimana cara kerja negara tersebut? Bisa dibayangkan.

Dalam konteks bisnis, berpikir binari juga membahayakan, karena bisnis itu cair dan mengalir. Tidak ada yang pasti “benar atau salah.” Apa yang “benar” bagi suatu perusahaan, belum tentu “benar” bagi perusahaan lain. Demikian juga ketika “salah.”

Lantas, apabila Anda mengenal seseorang yang berpikir binari, bagaimana menghadapinya?

Satu, Anda dapat dengan terus terang memberi tahu bahwa cara berpikir demikian “membahayakan.” Terutama merugikan dirinya sendiri.

Tentu saja tidak semua orang senang diberi tahu, terlebih karena pola pikir “binari” tersebut. Jadi, perlu skill berkomunikasi dari Anda yang menjelaskan bahwa pola pikir “binari” dapat memberi akibat negatif, walaupun itu adalah pilihannya sendiri.

Dua, ketika bertanya kepada seseorang, beri kesempatan baginya untuk menjawab secara panjang lebar. Tidak semua pertanyaan perlu dijawab dengan “ya” atau “tidak.” Dan jelaskan bahwa tidak ada yang “salah” atau “benar.”

Ketika penjawab memilih menjawab secara binari, ajaklah untuk menjawab dengan lebih jelas dan lengkap, termasuk menggunakan argumen-argumen.

Tiga, apabila keluarga dekat atau bawahan Anda berpikir binari, ajak untuk berpikir non-binari. Ajak untuk menggunakan nalar, yang diekspresikan dalam bentuk negosiasi, persuasi, deskripsi, eksposisi, dan sebagainya.

Mengubah pola pikir binari ke non-binari deskriptif memerlukan waktu dan kesadaran untuk mengubah diri. Jika Anda mampu memberikan lingkungan yang baik untuk nalar berkembang, lakukan. Jika kemampuan terbatas, minimal Anda dapat “menegur” mereka yang memilih untuk berpikir simplistis ala binari.

Akhir kata, mulailah dari diri sendiri. Ketika berkomunikasi, biasakan menyiapkan argumen, bahkan ketika pertanyaan yang diajukan kepada Anda bersifat binari “ya atau tidak.” Semakin terbiasa menggunakan nalar yang baik, semakin berkualitas pikiran-pikiran Anda.[]

KONTAN WEEKLY, 1-6 Januari 2018

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest