Select Page


[Download PDF KONTAN WEEKLY Filsafat Ikigai]

oleh Jennie M. Xue

Siapa yang tidak ingin hidup panjang, sehat, dan tidak stres? Mari kita belajar filsafat hidup praktis Ikigai dari para penduduk Okinawa, Jepang yang sangat dikenal dengan para sentenarian yang berusia lebih dari 100 tahun.

“Ikigai” dapat diterjemahkan bebas sebagai filsafat hidup yang mencakup hidup bahagia, hidup bertujuan, dan panjang umur. Deep happiness, sense of purpose, and longevity.

Para sentenarian Okinawa menyarankan agar setiap individu punya tujuan hidup yang jelas yang merupakan perpotongan dari empat hal: passion, skills, earn a living, dan what the world needs.

Passion.
Sesuatu yang sangat Anda jiwai dan cintai adalah “passion.” Ini lebih dari sekedar “suka.” Passion bisa berbentuk hobi atau aktivitas kesayangan yang pasti Anda jalankan dalam kondisi apapun, misalnya kondisi eksternal terkadang kurang memadai. Baik hujan maupun badai, Anda tetap jalankan.

Skills.
Ini adalah ketrampilan atau keahlian yang Anda miliki. Biasanya, apabila Anda punya passion besar akan sesuatu, skill-pun akan berkembang dengan sangat baik. Passion dan skill sering kali berjalan paralel, namun tidak selalu. Idealnya, passion utama Anda adalah skill terbaik Anda dan sebaliknya.

Earn a living.
Passion x skill = earn a living. Begini idealnya. Sumber nafkah Anda idealnya dimotori oleh passion dan skill yang sama besar. Jadi, jika Anda sangat suka memasak dan skill Anda pun sangat hebat dengan bukti masakan-masakan yang luar biasa enak cita rasanya, sebaiknya Anda membuka bisnis masakan. Bisa restoran, catering, atau sejenisnya.

What the world needs.
Nah, ketika tiga hal di atas bergabung dan membentuk busur panah yang tepat ke sasaran apa yang dibutuhkan oleh dunia, jadilah Anda pengusaha sukses di bidang pilihan. Bisa dimengerti mengapa para pengusaha sukses adalah mereka yang turun tangan langsung menjalankan bisnis mereka. Tidak semata-mata mendelegasikan kepada para anak buah.

Refleksikan apa sesungguhnya passion utama dan skill terbaik yang dimiliki. Ada yang mudah mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan ini, namun ada yang kebetulan belum menemukan passion dan skill yang pas.

Jika Anda termasuk kategori kedua, bertanyalah kepada diri: sebenarnya apa yang harus saya lakukan saat ini juga jika besok saya mati? Biasanya, yang dipilih adalah aktivitas yang amat sangat dicintai.

Para sentenarian Okinawa mengingatkan kita untuk hidup bebas dari stres. Idealnya, kita tidak perlu mencemaskan hal-hal yang tidak dapat diubah. Aktif beraktivitas bervariasi setiap hari sangat membantu dalam menurunkan kadar stres.

Dalam Budaya Jepang, Naikan merupakan aktivitas introspektif yang kini dapat kita jalankan secara kontemporer tanpa perlu bersemedi ala para biksu. Ada tiga pertanyaan reflektif yang perlu dijawab.

Satu, apa yang telah saya terima dari A? Dua, apa yang telah saya berikan kepada A?
Tiga, apa masalah yang saya sebabkan kepada A?

Metode refleksi Naikan ini mempunyai fungsi untuk bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain. Sepanjang Anda tidak menyebabkan masalah bagi orang lain, semestinya hati terasa lapang dan stres masih dapat dikendalikan.

Selain metode Naikan, Terapi Morita juga dikenal dalam filsafat praktis Jepang. Psikiater Shoma Morita sejalan dengan metode Terapi Rasional-Emotif Albert Ellis dalam Ilmu Terapi Perilaku Kognitif dan Psikologi Eksistensial. Tujuh poin penting Terapi Morita adalah:

Satu, usahakan cemas sesedikit mungkin.
Dua, bukalah hati dengan menyapa orang lain.
Tiga, jangan terlalu mencemaskan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan.
Empat, nikmati apa yang dimiliki.
Lima, kembangkan kebiasaan baik bangun pagi hari.
Enam, tanam sayuran di kebun sendiri dan memasak makanan sendiri.
Tujuh, nikmati persahabatan dengan handai taulan dan tetangga.

Bagi para senior Okinawa, diet yang sangat bervariasi juga sangat membantu dalam mempersehat fisik dan psikis. Apalagi mereka menanam sayuran di kebun sendiri. Banyak pula yang menangkap ikan di laut sendiri.

Filsafat Ikigai dari Okinawa, Jepang sangat sederhana. Terlalu sederhana malah, sehingga kedengarannya sangat klise. Namun bagi para urban yang hidup di kota-kota besar berdesakan, makan makanan siap saji yang telah diproses, stres dikejar-kejar pekerjaan dan aktivitas tanpa ujung, stres menghadapi macet berjam-jam di jalan, menghirup udara penuh karbon monoksida, dan menghadapi dunia pergaulan penuh dengan iri dan dengki, filsafat Ikigai merupakan mata air segar penyejuk dahaga. Selamat menjalankan hidup sederhana bebas stres[]

KONTAN WEEKLY, 12-18 Februari 2018

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest