Select Page

[Download PDF KONTAN WEEKLY Asertif sebagai Ketrampilan]

oleh Jennie M. Xue

Kultur Indonesia lemah lembut dan tidak se-asertif kultur barat. Sebagai seseorang yang hidup di dua dunia (timur dan barat), penulis sangat peka akan kultur dan norma. Apa yang “normal” di suatu kultur, belum tentu diterima di kultur berbeda. Salah satunya adalah tingkat ke-asertif-an seseorang.

Ke-asertif-an (assertiveness) seseorang merupakan gaya komunikasi. Semakin tinggi tingkat asertifnya, semakin jelas, percaya diri, dan yakin. Ke-asertif-an seorang pemimpin menentukan bagaimana ia dipersepsikan di antara para follower.

Komunikasi secara asertif sangat menentukan apakah Anda dapat dipromosikan atau tidak, mengingat seorang pemimpin yang baik biasanya asertif. Namun tidak semua orang yang asertif adalah pemimpin yang baik, mengingat mereka yang termasuk dalam kategori kedua ini bisa saja seseorang berperilaku parasitik.

Kemampuan berkomunikasi secara asertif akan sangat menolong dalam mengartikulasikan sesuatu, termasuk dalam menjaga hubungan harmonis dengan pihak-pihak lain. Intinya, seseorang yang asertif berani dan mampu mengekspresikan perbedaan.

Elemen keberanian dan kemampuan berekspresi ini perlu dilatih dengan membangun kesadaran pikiran dan emosi. Ketika pikiran menguasai emosi, maka komunikasi yang diproyeksikan lebih obyektif daripada ketika emosi menguasai emosi.

Bagaimana dengan Anda? Cukup asertif-kah? Selain kurangnya keberanian dan lemahnya kemampuan berekspresi secara baik, ada beberapa kendala lain, seperti programming masa kecil yang salah, berasal dari status sosial dan ekonomi rendah, perempuan, dan susunan keluarga.

Kendala-kendala tersebut menempatkan individu sebagai pendengar dan penderita, di mana orang lain yang dipandang “lebih baik,” “lebih tinggi, dan “lebih pantas” diberi kesempatan berekspresi lebih dahulu dan lebih besar. Khususnya bagi perempuan dan mereka yang berasal dari kelas sosial rendah, programming sosial membentuk kepasifan mereka.

Lantas, bagaimana melatih ke-asertif-an dan berkomunikasi asertif?

Pertama, kenali penerimaan diri.
Apakah Anda memandang diri lebih kecil atau lebih besar dari sesungguhnya? Distorsi akan image diri sangat sering terjadi. Seseorang yang kurang asertif bisa jadi memandang diri lebih kecil dari sebenarnya, alias rendah diri atau kurang percaya diri.

Kenali diri Anda dan terimalah apa adanya. Setiap orang punya tempat di dunia, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika Anda menerima diri sebagai satu keutuhan (wholesome), Anda lebih siap untuk berekspresi.

Kedua, kenali posisi diri dalam relasi dengan orang lain.
Di Indonesia yang kelas sosialnya bertingkat, sering kali ada rasa “sungkan.” Dalam kultur barat yang lebih equal, posisi diri relatif lebih sehat sehingga komunikasi tidak semata-mata didikte oleh status sosial dan ekonomi.

Kenali bahwa apapun posisi sosial atau posisi di dalam suatu organisasi bukanlah alasan untuk tidak asertif. Anda adalah individu yang punya hak dan kelebihan unik dan spesial. Yang perlu Anda lakukan sebenarnya bukan “merendahkan diri” namun “menghormati” orang lain dan diri sendiri.

Ketiga, kenali gaya komunikasi dominan.
Bagaimana gaya komunikasi Anda? Kenali bagaimana individu-individu tertentu membawakan diri mereka. Pelajari bagaimana para komunikator handal mengekspresikan diri dengan jelas dan percaya diri.

Tentu di balik kepercayaan diri ini ada sesuatu yang “ekstra,” yaitu kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan. Semakin tinggi, besar, dan dalam “ekstra” ini, semestinya tidak ada lagi alasan untuk tidak asertif.

Keempat, biasakan mengutarakan pendapat.
Dimulai dari hal-hal kecil. Mungkin Anda mengira bahwa seseorang yang diam saja dan penurut adalah seorang introvert. Belum tentu. Seorang introvert menge-charge energi dengan mengambil waktu bersendiri.

Ketika Anda memilih untuk pasif dan tidak berpendapat, Anda sebenarnya tidak menghargai diri sendiri. Tentu mengekspresikan diri bukan berarti Anda perlu cerewet dan banyak bicara, namun memberi tempat bagi diri untuk berpartisipasi dalam eksistensi.

Akhir kata, berkomunikasi secara asertif merupakan salah satu skill penting dalam hidup, bisnis, dan karir. Tanpanya, hampir mustahil Anda dapat memimpin diri sendiri dan orang lain.

Fokuslah kepada apa yang mampu Anda berikan bagi orang lain dalam tim maupun bisnis, daripada hal-hal yang menurunkan spirit berkomunikasi. Keberanian sesungguhnya telah ada di dalam diri, hanya perlu dilatih setiap hari.[]

KONTAN WEEKLY, 30 Januari – 5 Februari 2017

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pin It on Pinterest